Blog

Jadwal Sholat


mawi fadli YM!

Small text message

mencoba berbagi dalam segala hal, yg sanggup dibagi.. :)

Diberdayakan oleh Blogger.

Lelaki yang pantas berpredikat SUAMI terbaik..

Senin, 02 Desember 2013 - - 0 Comments

mari belajar..

:: Lelaki yang pantas berpredikat SUAMI terbaik adalah ::

☑ Seorang suami yang selalu memuliakan isterinya.
☑ Seorang suami yang selalu menampakkan senyum di depan isterinya.
☑ Seorang suami yang menjadi Qawwam (pemimpin & pelindung) bagi keluarganya.
☑ Seorang suami yang begitu tangguh dalam berjuang mencarikan nafkah yang halal untuk isteri dan anak-anaknya.
☑ Seorang suami yang tak pernah lelah untuk bersikap lemah lembut mengingatkan,membimbing serta memaafkan kesalahan isterinya.
☑ Seorang suami yang menjadi seorang nahkoda dalam keluarga untuk mengarungi samudera kehidupan agar selamat menuju pelabuhan hakiki yaitu Surga-Nya.
☑ Dan ia selalu berpegang teguh kepada Firman ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala :

''Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari (siksa) api Neraka..." (Q.S. At-Tahrim 6)

Ia tidak hanya menuntut isterinya agar menjadi seperti yang ada dalam pikirannya. Akan tetapi ia lebih banyak memberi contoh yang baik dalam rumah tangganya.

Ia tidak hanya menuntut isterinya agar menjadi seorang wanita yang bertakwa kepada Allah. Akan tetapi ia terlebih dahulu mencontohkan dirinya sebagai seorang suami yang bertakwa.

Ia tidak hanya menuntut isterinya isterinya agar menjadi wanita yang penuh hormat kepadanya. Akan tetapi ia terlebih dahulu menjadikan dirinya sebagai seorang suami yang selalu menghargai isterinya.

Ia tidak hanya menuntut isterinya isterinya agar menjadi wanita yang selalu setia. Akan tetapi ia terlebih dahulu memposisikan dirinya sebagai seorang suami yang tidak mudah tergoda kepada wanita lainnya.

Dan ia tidak hanya menuntut isterinya agar menjadi wanita yang penuh kasih sayang dalam keluarganya. Akan tetapi ia terlebih dahulu menjadikan dirinya sebagai suami yang penuh perhatian kepada isteri dan juga anak-anaknya.

Bagaimanapun seorang isteri akan lebih banyak mengikuti dan mencontoh dari apa yang dilakukan oleh suaminya.

☑ Semoga masih banyak kaum lelaki yang punya komitmen demikian bagi isteri dan anak-anaknya.Karena lelaki demikian akan mampu menjadi PEMIMPIN yang sebenarnya dalam keluarga. Yang akan menjadikan rumah tangganya sebagai SURGA bagi isteri dan anak-anaknya..


===============================================



Sebaik-baiknya wanita adalah yang taat pada Allah dan patuh pada suaminya..
Dan sebaik-baiknya lelaki adalah yang taat pada Allah dan memuliakan isterinya..

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya):
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. Ahmad)

"Sebaik-baik kalian, adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan Aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku." (HR. Tirmizi)

“Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak ia akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang mereka.” (HR. Al-Bukhari)

“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19)



====================================



1) Lelaki terindah di mata wanita bukanlah yang paling tampan wajahnya; melainkan yang bisa membuatnya merasa sang tercantik di dunia.

2) Lelaki tergagah di hati wanita bukanlah yang paling kekar ototnya, melainkan yang mampu mendengar, memahami, & mengerti curahan hatinya.

3) Lelaki terkaya bagi wanita, bukanlah yang terbanyak hartanya. Tapi dia yang pandai bersyukur & mengungkapkan terimakasih padanya.

4) Lelaki tershalih bagi wanita, tak sekedar banyak ilmu agama & rajin ibadahnya; tapi juga dia yang paling mulia akhlaqnya.

5) Lelaki terhebat bagi wanita, bukanlah yang mampu membelikan apapun untuknya; tapi yang wajah & bahunya siap menyambut senyum & airmata.

6) Lelaki tercinta bagi wanita; dia yang prasangka tak mengalahkan kemuliaan budinya; yang kekesalan tak mengalahkan pengertian & maafnya.

-ustadz arif-

===========================



"Tempat yang paling baik untuk menimba ilmu bagi wanita adalah seorang suami yang shalih, penuntut ilmu dan bertaqwa kepada Allah. Oleh karena itu, bagi orang tua hendaknya berupaya memilihkan suami terbaik bagi anaknya."



dari berbagai sumber
https://www.facebook.com/pages/TaAruf/190448534329750

senyum penyemangatku #4

Kamis, 04 Oktober 2012 - - 0 Comments

pemilik cita-cita tidak pernah peduli dengan panas..
tidak takut dengan dingin & tidak gelisah dengan kepahitan..
yang terpenting,
pemilik cita-cita sadar bahwa ada Allah disetiap saat.. :)

quote senyum penyemangatku

- - 0 Comments

Bismillah..

Setelah tak henti ditemui oleh nikmat-NYA,
maka tak boleh ada syukur yg berujung..

have a nice friday!
05-oct-2012 (H-10)

Senyum penyemangatku #3

Kamis, 27 September 2012 - - 0 Comments

Bisakah?
kau datang tuk mempurnamakan rasa ini untuk satu asa yang lama ku pendam

Bisakah?
kau menyemburatkan berkas cahaya tanpa henti
untukku tak redup mendekap rindu

Bisakah?
kau memegang tiap dentingan jam
untukku waktu menyelaraskan kehidupan ini

dan Bisakah?
kau dan aku memulai bersama
untuk mengukuhkan padaNya, cinta..

Terima kasih suami ******ku..
Mencintaimu karena satu alasan penting.
Allah ta'ala..

Senyum penyemangatku #2

Rabu, 26 September 2012 - - 0 Comments

Bismillah..
Libatkan Allah dalam semua hal. Cukup tiada selainNya.
Agar selalu ber-RUH disetiap kehidupan.
Karena sesungguhnya hanya perlu membangun sebuah i'tikad baik.
Selanjutnya hanya perlu menanyakan pada diri sendiri,
sudahkah?
dan Jawaban itu yang akan menjadi titik awal perbaikan diri.
Menuntut ilmu, berkeluarga, bekerja, berteman, dan ber-ber lainnya,
sudahkah ia kita niatkan karena Allah?
-Bianglala Basmah-

semoga tetap terjaga dariNya.. dan dariNya kita dimudahkan segala aktifitas..

*keep helm n 'Aadiyaat

Senyum penyemangatku #1

- - 0 Comments

Bismillah..
Hey, Dunia! Jangan buatku terpesona menatapmu terlalu lama.
Cukup melihat sekedarku..
Sebab aku masih punya harapan besar pada pandanganku untuk melihat negeri akhirat yang sedang ku tuju, lebih luas di sana.

-aku, si bianglala-

selamat beraktifitas tuk menggapai ridha Allah..

Agar Nafkah keluarga Menjadi Berkah

Rabu, 25 Juli 2012 - - 0 Comments


Agama Islam yang sempurna telah mengatur dan menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh kaum muslimin untuk menyelenggarakan semua urusan dalam hidup mereka, untuk kemaslahatan dan kebaikan mereka dalam urusan dunia maupun agama.

Allah berfirman,
{وَنزلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ}
”Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89).
Dan ketika sahabat yang mulia, Salman Al-Farisy radhiallahu ‘anhu ditanya oleh seorang musyrik, Sungguhkah nabi kalian (nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) adab buang air besar? Salman menjawab, ”Benar, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menghadap ke kiblat ketika buang air besar dan ketika buang air kecil…[1]
Tidak terkecuali dalam hal ini, masalah yang berhubungan dengan mengatur dan membelanjakan rizki/penghasilan, semua telah diatur dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih, dengan tujuan untuk membimbing orang-orang yang beriman agar mereka meraih keberkahan dan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam pembelanjaan harta mereka yang sesuai dengan petunjuk-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ»
“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampaipun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.”[2]
Disamping itu, mengatur pembelanjaan harta sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala merupakan cara terbaik untuk mengatasi keburukan nafsu manusia yang tidak pernah puas dengan harta dan dunia, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga.”[3]
Juga sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.”[4]

Kewajiban mengatur pembelanjaan harta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.”[5]
Hadits yang agung ini menunjukkan kewajiban mengatur pembelanjaan harta dengan menggunakannya untuk hAl-hal yang baik dan diridhai oleh Allah, karena pada hari kiamat nanti manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang harta yang mereka belanjakan sewaktu di dunia.[6]
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai bagi kalian tiga perkara…(di antaranya) idha’atul maal (menyia-nyiakan harta).[7]
Arti “idha’atul maal” (menyia-nyiakan harta) adalah menggunakannya untuk selain ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau membelanjakannya secara boros dan berlebihan.[8]

Antara pemborosan dan penghematan yang berlebihan

Sebaik-baik cara mengatur pembelanjaan harta adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya,
{وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا}
“Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqaan: 67)
Artinya, mereka tidak mubazir (berlebihan) dalam membelanjakan harta sehingga melebihi kebutuhan, dan (bersamaan dengan itu) mereka juga tidak kikir terhadap keluarga mereka sehingga kurang dalam (menunaikan) hak-hak mereka dan tidak mencukupi (keperluan) mereka, tetapi mereka (bersikap) adil (seimbang) dan moderat (dalam pengeluaran), dan sebaik-baik perkara adalah yang moderat (pertengahan).[9]
Juga dalam firman-Nya,
{وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا}
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenngu pada lehermu (terlalu kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu boros), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Israa’: 29)
Imam Asy-Syaukani ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Arti ayat ini, larangan bagi manusia untuk menahan (hartanya secara berlebihan) sehingga mempersulit dirinya sendiri dan keluarganya, dan larangan berlebihan dalam berinfak (membelanjakan harta) sampai melebihi kebutuhan, sehingga menjadikannnya musrif (berlebih-lebihan/mubazir). Maka ayat ini (berisi) larangan dari sikap ifrath (melampaui batas) dan tafrith (terlalu longgar), yang ini melahirkan kesimpulan disyariatkannya bersikap moderat, yaitu (sikap) adil (seimbang) yang dianjurkan oleh Allah.”[10]

Waspadai fitnah (kerusakan) harta!

Perlu diwaspadai dalam hal yang berhubungan dengan pembelanjaan harta, fitnah (kerusakan) yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta tersebut, sebagaimana yang telah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,
«إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ»
“Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.”[11]
Maksudnya, menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang merusak agama seseorang) karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya,
{إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ}
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Tagaabun: 15).[12]
Kerusakan lain yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta adalah sifat tamak/rakus dan ambisi untuk mengejar dunia, karena secara tabiat asal nafsu manusia tidak akan pernah merasa puas/cukup dengan harta dan kemewahan dunia yang dimilikinya, bagaimanapun berlimpahnya[13], kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh AllahTa’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan hal ini dalam sabda beliau, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga.”[14]
Sifat rakus inilah yang akan terus memacunya untuk mengejar harta dan mengumpulkannya siang dan malam, dengan mengorbankan apapun untuk tujuan tersebut. Sehingga tenaga dan pikirannya akan terus terkuras untuk mengejar ambisi tersebut, dan ini merupakan kerusakan sekaligus siksaan besar bagi dirinya di dunia.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Orang yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan), Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan dan penyesalan yang tiada akhirnya.[15]
Dalam hal ini, salah seorang ulama salaf  berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan.”[16]

Zuhud dalam masalah harta

Zuhud dalam harta dan dunia bukanlah dengan meninggalkannya, juga bukan dengan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi zuhud dalam harta adalah dengan menggunakan harta tersebut sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala, tanpa adanya keterikatan hati dan kecintaan yang berlebihan kepada harta tersebut. Atau dengan kata lain, zuhud dalam harta adalah tidak menggantungkan angan-angan yang panjang pada harta yang dimiliki, dengan segera menggunakannya untuk hAl-hal yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Inilah arti zuhud yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya, Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)? Beliau berkata, “(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata, Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi.”[17]
Salah seorang ulama salaf berkata, “Zuhud di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, dan juga bukan dengan menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah dengan kamu lebih yakin dengan (balasan kebaikan) di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika kamu ditimpa suatu musibah (kehilangan sesuatu yang dicintai) maka kamu lebih mengharapkan pahala dan simpanan (kebaikannya diakhirat kelak) daripada jika sesuatu yang hilang itu tetap ada padamu.”[18]

Jangan lupa menyisihkan sebagian harta untuk sedekah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
{وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ}
“Dan apa saja yang kamu nafkahkan (sedekahkan), maka Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS. Sabaa’: 39).
Makna firman-Nya “Allah akan menggantinya” yaitu dengan keberkahan harta di dunia dan pahala yang besar di akhirat.[19]
Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ»
“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya.”[20]
Arti “tidak berkurangnya harta dengan sedekah” adalah dengan tambahan keberkahan yang Allah Subhanahu wa Ta’alajadikan pada harta dan terhindarnya harta dari hAl-hal yang akan merusaknya di dunia, juga dengan didapatkannya pahala dan tambahan kebaikan yang berlipat ganda di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak, meskipun harta tersebut berkurang secara kasat mata.”[21]
Maka keutamaan besar ini jangan sampai diabaikan oleh keluarga muslim ketika mereka mengatur pembelanjaan harta, dengan cara menyisihkan sebagian dari rizki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka, untuk disedekahkan kepada fakir miskin.
Harta yang disisihkan untuk sedekah tidak mesti besar, meskipun kecil tapi jika dilakukan dengan ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya, maka akan bernilai besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kalian (selamatkanlah diri kalian) dari api nereka walaupun dengan (bersedekah dengan) separuh buah kurma.”[22]
Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik (meskipun) kecil, walaupun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.”[23]
Dan lebih utama lagi jika sedekah tersebut dijadikan anggaran tetap dan amalan rutin, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah amal yang paling kontinyu dikerjakan meskipun sedikit.”[24]

Nasehat dan penutup

Kemudian yang menentukan cukup atau tidaknya anggaran belanja keluarga bukanlah dari banyaknya jumlah anggaran harta yang disediakan, karena berapapun banyaknya harta yang disediakan untuk pengeluaran, nafsu manusia tidak akan pernah puas dan selalu memuntut lebih.
Oleh karena itu, yang menentukan dalam hal ini adalah justru sifat qana’ah (merasa cukup dan puas dengan rezki yang AllahSubhanahu wa Ta’ala berikan) yang akan melahirkan rasa ridha dan selalu merasa cukup dalam diri manusia, dan inilah kekayaan yang sebenarnya. Sebagaimana sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati).”[25]
Sifat qana’ah ini adalah salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan iman seseorang, karena sifat ini menunjukkan keridhaan orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan kemanisan (kesempurnaan) iman, orang yang ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya.”[26]
Arti “ridha kepada Allah sebagai Rabb” adalah ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya[27].
Lebih daripada itu, orang yang memiliki sifat qana’ah dialah yang akan meraih kebaikan dan kemuliaan dalam hidupnya di dunia dan di akhirat nanti, meskipun harta yang dimilikinya tidak banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya.”[28]
Akhirnya kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia menganugerahkan kepada kita semua sifat qana’ah dan semua sifat-sifat baik yang diridhai-Nya, serta memudahkan kita untuk memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya dengan baik dan benar, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kisah Harun Al Rasyid dan Abu Nawas

Selasa, 24 Juli 2012 - - 0 Comments

Siapakah Sebenarnya Abu Nuwas (Abu Nawas)?


Konon pada zaman Khalifah Harun Al Rasyid –salah satu khalifah Daulah Bani Abbasiyyah- hiduplah seorang pujangga yang bernama Abu Nuwas (Abu Nawas). Khalifah mempunya hubungan dekat dengan Abu Nuwas ini, sedangkan Abu Nuwas adalah seorang yang suka meminum minuman keras, bermain dengan wanita, mendengarkan musik, berjoget, dan berdansa, serta perbuatan lain semisalnya, sehingga khalifah pun banyak melakukan itu semua karena kedekatannya dengan Abu Nuwas.

lebih dari update facebook..

Rabu, 18 Juli 2012 - - 0 Comments

assalamu'alaykum..
adek, kamu nga' sekolah (lanjutnya saat tahu yg mengangkat telpnya semestinya bukan dia)
ibu ada?.. lg ngapain?
tolong kk mau bicara..

Polemik Zakat Profesi

Jumat, 06 Juli 2012 - - 0 Comments


Definisi Zakat Profesi
Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tertentu, seperti konsultan keuangan, dokter spesialis dan lain-lain. 
Gabungan dua kata zakat dan profesi; zakat profesi didefinisikan sebagai zakat yang dikeluarkan dari hasil (upah) pekerjaan seorang ahli di bidangnya yang biasanya berjumlah besar.

memilih "pendidik yg utama"..

Rabu, 04 Juli 2012 - - 0 Comments

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.


Siapakah yang pantas menjadi wanita idaman? Bagaimana kriterianya? Pertanyaan ini mungkin sangat sering muncul dibenak pria yg hendak melangkah ke fase hidup selanjutnya.

Serba-Serbi Bulan Sya’ban

Senin, 26 Juli 2010 - - 1 Comments

Alhamdulillah, saat ini kita telah menginjak bulan Sya’ban. Namun kadang kaum muslimin belum mengetahui amalan-amalan yang ada di bulan tersebut. Juga terkadang kaum muslimin melampaui batas dengan melakukan suatu amalan yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga dalam tulisan yang singkat ini, Allah memudahkan kami untuk membahas serba-serbi bulan Sya’ban. Allahumma a’in wa yassir (Ya Allah, tolong dan mudahkanlah kami).

Banyak Berpuasa di Bulan Sya’ban

Terdapat suatu amalan yang dapat dilakukan di bulan ini yaitu amalan puasa. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri banyak berpuasa ketika bulan Sya’ban

sudah siapkah berumah tangga??

Selasa, 06 Juli 2010 - - 0 Comments

Sudah siap untuk berumah tangga?? (siap dari segi materi dan ilmu)
Di bawah ini ada beberapa model rumah tangga (ilmunya) yang akan dijelaskan, selanjutnya kita bisa menilai model rumah tangga apakah yang akan kita wujudkan..
1. Model rumah tangga gaya hotel.

Itsar, Puncak Persaudaraan Seorang Muslim

Senin, 28 Desember 2009 - - 0 Comments

Mukadimah

“Innamal mukminuna ikhwah. Faaslihu baina akhawaikum” (QS 49 : 10).

“Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah orang-orang yang berselisih diantaramu”.

“Innal muslim akhul muslim” (sesungguhnya muslim itu saudara bagi muslim lainnya).

Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan Islam adalah

Interaksi dengan non MUSLIM yang dibolehkan

Senin, 21 Desember 2009 - - 0 Comments

Setelah kami membahas berkenaan dengan ucapan selamat natal, agar tidak disalahpahami, sekarang kami akan utarakan beberapa hal yang mestinya diketahui bahwa hal-hal ini tidak termasuk loyal (wala’) pada orang kafir. Dalam penjelasan kali ini akan dijelaskan bahwa ada sebagian bentuk muamalah dengan mereka yang hukumnya wajib, ada yang sunnah dan ada yang cuma sekedar dibolehkan.

[Agar pembaca mendapatkan pembahasan yang utuh, kami harap bisa membaca dua artikel berikut: [1] Bolehkah Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal? dan [2] Mengucapkan Selamat Natal Dianggap Amalan Baik.]

Para pembaca -yang semoga dirahmati oleh Allah- kita harus mengetahui lebih dulu bahwa

Puasa 'Asyura' di Bulan MUHARRAM

- - 0 Comments

Alhamdulillah, saat ini kita telah berada di bulan Muharram. Mungkin masih banyak yang belum tahu amalan apa saja yang dianjurkan di bulan ini, terutama mengenai amalan puasa. Insya Allah kita akan membahasnya pada tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.

Dianjurkan Banyak Berpuasa di Bulan Muharram

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana sabdanya

Air Mata Rasulullah S.A.W

Selasa, 01 Desember 2009 - - 0 Comments

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk ?" tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
"Maafkanlah, ayahku sedang demam", kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.

Bercanda Boleh, tapi...

- - 0 Comments

Sering kali saya dengar dari beberapa teman bahwa kalau ngobrol sama si A kadang kurang asyik, karena dia orangnya kurang lentur alias kurang banyak ngomong dan terlalu jaga imej, atau kadang mereka mengatakan kata mbak ini, kita jangan terlalu begini dan jangan terlalu begitu, wah....pokoknya masih banyak lagi komentar-komentar yang kita dengar dari teman-teman. Saya jadi bingung juga menjawabnya, karena saya orangnya santai dan senang bercanda juga, sementara di lain fihak mereka juga menghargai saya, maksudnya di samping bercandanya saya, saya selalu menanamkan kebaikan untuk mereka.

Majelis Ta'lim

- - 0 Comments

Pengertian Majelis Taklim

Menurut akar katanya, istilah majelis taklim terssusun dari gabungan dua kata : majlis yang berarti (tempat) dan taklim yang berarti (pengajaran) yang berarti tempat pengajaran atau pengajian bagi orang-orang yang ingin mendalami ajaran-ajaran islam sebagai sarana dakwah dan pengajaran agama.

Majelis taklim adalah salah satu lembaga pendidikan diniyah non formal yang bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan akhlak mulia bagi jamaahnya,

Tinggalkan Beban Sejenak

Senin, 30 November 2009 - - 0 Comments

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen
Covey mengangkat segelas air & bertanya kepada para siswanya:

"Menurut anda, kira-kira seberapa beratnya segelas air ini?" Para siswa
menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. "Ini bukanlah masalah berat
absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey. "Jika
saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya
selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. & jika saya memegangnya selama 1
hari penuh, mungkin anda harus